Vendor Bermasalah (?)

by - 11:12 PM

   Sudah hampir enam bulan lalu, alhamdulillah saya telah resmi menjadi istri dari suami saya (yaeyalah). Dalam rangka enam bulan perkawinan, saya akan membicarakan micin di dalam persiapan pernikahan saya (kenapa dibilang micin? karena bikin pusing kepala hehe). Seharusnya sih sharenya sesaat sesudah pernikahan tapi waktu itu terlanjur malas update tapi kalau tidak di post mengenai kelangsungan acara pernikahan, rangkaian postingan tentang pernikahan jadi tanggung hehe.
   Sebetulnya saya tipikal orang yang santai. Saya tidak mau terlalu mengejar-ngejar vendor karena saya tau gimana rasanya diribetin klien. Saya merasa bahwa vendor-vendor yang saya pilih sudah profesional dan saya pasti bukan satu-satunya klien yang mereka tangani jadi saya percayakan banyak hal kepada mereka. Ternyata ini adalah kesalahan BESAR HAHAHAHAHAHAHA. JANGAN PERNAH PASRAH KEPADA VENDOR, saya ulangi JANGAN PERNAH PASRAH KEPADA VENDOR.

   Mari saya jabarkan satu persatu hal-hal yang menjadi permasalahan di H-sekian acara pernikahan saya
  • Saat pembuatan rundown acara, masih banyak nama-nama yang belum dapat di isi dari pihak suami. 
  • Lamanya konfirmasi dari pihak suami tentang nama-nama tersebut. Pihak vendor saat itu juga tidak pernah memfollow up.
  • Pihak vendor hanya mengirim file rundown dalam format pdf yang tidak dapat diedit dan ketika kami konversi ke doc, urutannya malah jadi kacau.
  • Pihak saya yang terus-terusan bertanya tentang kelanjutan rundown tapi malah membuat vendor bete karena menurut dia, kami yang belum melengkapi rundown tersebut (karena saya pikir ada beberapa urutan yang harus dikoreksi bersama yang sebetulnya sudah pernah dibahas tapi saat meeting selalu dibahas dari awal lagi).
  • Pihak saya yang melakukan konfirmasi ke vendor mengenai jadi atau tidaknya technical meeting karena masih belum ada kejelasan mengenai run down tapi malah membuat vendor bete lagi karena menurut dia, saya bertanya tentang hal yang sama berulang-ulang.
  • Pihak saya yang menyatakan bahwa cara bicara pihak vendor kurang menyenangkan tetapi saya malah di gas balik. Vendor malah menyatakan kesediaannya untuk mundur dengan pengembalian DP apabila saya tidak berkenan dengan gaya bicaranya di H-22
  • Pihak suami yang mulai bertanya mengenai moodboard dan layout dari vendor tetapi tidak juga dikirimkan.
  • Pihak vendor-vendor lain yang belum terinformasi mengenai technical meeting, padahal saat itu sudah sehari sebelum technical meeting dan H-15. Saat dikeluhkan oleh suami akhirnya di blast undangan untuk technical meeting dan hanya vendor-vendor yang pernah menjadi rekanan saja yang terinfo.
   Berbekal kutipan dari teman saya,
"Tenang, walaupun perencanaannya kurang mulus tapi nanti hari H pasti baik-baik saja." 
   dan kutipan dari si vendor ke suami,
   "Selama ini pun kami tidak pernah ada kendala saat acara"
kami pun masih santai masih percaya ke vendor. Hingga akhirnya H-15 acara pernikahan dan H-1 technical meeting, kami memutuskan untuk mengganti si vendor. Saya mulai kepikiran bagaimana acara akan berjalan lancar apabila H-1 technical meeting, vendor juga masih tidak mencari tahu tentang detail acara kami.
   Sampai di sini pun, vendor tadinya meminta biaya pembatalan untuk MC. Sebagai informasi, kami tidak pernah meminta untuk booking MC dari vendor karena MC dari pihak kerabat (Lihat ke point 4, vendor sepertinya selalu lupa dengan diskusi kami saat meeting). 
   Setelah chat panjang lebar kenapa sepertinya sulit untuk koordinasi dengan vendor ini, sepertinya vendor merasa bayaran dari kami kurang. Saya tahu hal ini karena saat suami chat dengan vendor, vendor mengungkapkan kalau pembayaran kami tidak lancar dan si vendor mendoakan kalau memang kami memiliki kesulitan finansial, yang membuat kami tidak dapat membayar biaya pembatalan MC yang tidak pernah kami pesan sebelumnya dan tidak dapat melakukan pembayaran sesuai perjanjian, semoga dilimpahkan rejeki dan biarkan gusti Allah yang menggantinya. :)
   Jadi sebetulnya DP yang diinginkan dari vendor adalah 30% tetapi saat itu ayah saya protes dengan jumlah tersebut. Ayah saya merasa bahwa DP 30% terlalu banyak karena DP dari catering saja tidak sampai 10% (dengan logika Catering pastinya memakan biaya terbesar pada pernikahan).
   Setelah kami sampaikan bahwa ayah saya keberatan dengan DP 30%, DP vendor pun disepakati menjadi 10%. Saya ingat, saat saya sedang membagi-bagikan uang ke vendor-vendor lain, saya bertanya kepada vendor tersebut berapa jumlah yang harus saya bayarkan lagi karena biasanya pembayaran dibagi menjadi 3x. Vendor tersebut pun menjawab kalau nanti saja pembayarannya, dia akan meminta ketika membutuhkan uang. Nyatanya saya tidak pernah ditagih pembayaran sama sekali.
  
   Drama dengan vendor merupakan satu dari berbagai macam ujian sebelum menikah tetapi drama dengan vendor bukan berarti tidak bisa dihindari. Untuk menghindari drama dengan vendor, saya akan tuliskan di artikel selanjutnya ya :D

Foto oleh Lien Photos untuk dokumentasi pre-wedding

You May Also Like

0 comments