Friday, August 8, 2014

Dua Tetes Minyak

   Dahulu kala, seorang pemilik toko menyuruh anaknya pergi mencari rahasia kebahagiaan dari orang paling bijaksana di sunia. Anak itu melintasi  padang pasri selama empat puluh hari, dan akhirnya tiba di sebuah kastil yang indah, jauh, tinggi di puncak gunung. Di sanalah orang bijak itu tinggal.
                
   Namun ketika dia memasuki aula kastil itu, si anak muda bukannya menemukan orang bijak tersebut, melainkan melihat kesibukan besar di dalamnya: para pedagang berlalu-lalang, orang orang bercakap-cakap di sudut-sudut, ada orkestra kecil sedang memainkan musik lebut, dan ada meja yang penuh dengan piring-piring berisi makanan-makanan paling enak di belahan duni tersebut. Si orang bijak berbicara dengan setiap orang, dan anak muda itu harus menunggu selama dua jam. Setelah itu, barulah tiba gilirannya.

   Si orang bijak mendengarkan dengan seksama saat anak muda itu menjelaskan maksud kedatangannya, namun si orang bijak mengatakan sedang tidak punya waktu untuk menjelaskan rahasia kebahagiaan. Dia menyarankan anak muda itu melihat-lihat sekeliling istana, dan kembali ke sini dua jam lagi.

   “Sementara itu aku punya tugas untukmu,” kata si orang bijak. Diberikannya pada si anak muda sendok teh berisi dua tetes minyak. “Sambil kau berjalan-jalan, bawa sendok ini, tapi jangan sampai minyaknya tumpah.

   Anak muda itu pun mulai berkeliling-keliling naik turun sekian banyak tangga istana, sambil matanya  tertuju pada sendok yang dibawanya. Setelah dua jam, dia kembali ke ruangan tempat orang bijak itu berada.

   “Nah,” kata si orang bijak, “Apakah kau melihat tapestri-tapestri Persia yang tergantung di ruangan makanku? Bagaimana dengan taman hasil karya ahli taman yang menghabiskan sepuluh tahun untuk menciptakannya? Apa kau juga melihat perkamen-perkamen indah di perpustakaanku?”

   Anak muda itu merasa malu. Dia mengakui bahwa dia tidak sempat melihat apa-apa. Dia terlalu terfokus pada usaha menjaga minyak di sendok itu supaya tidak tumpah.

  “Kalau begitu, pergilah lagi berjalan-jalan, dan nikmatilah keindahan-keindahan istanaku,” kata si orang bijak. “Tak mungkin kau bisa mempercayai seseorang, kalau kau tidak mengenal rumahnya.”

   Merasa lega, anak muda itu mengambil sendoknya dan kembali menjelajahi istana tersebut, kali ini dia mengamati semua karya seni di langit-langit dan tembok-tembok. Dia menikmati taman-taman, gunung-gunung di sekelilingnya, keindahan bunga-bunga, serta cita rasa yang terpancar dari segala sesuatu di sana. Ketika kembali menghadap orang bijak itu, dieritakannya dengan mendetail segala pemandangan yang telah dilihatnya.

   “Tapi dimana tetes-tetes minyak yang kupercayakan padamu itu?” tanya si orang bijak. Si anak muda memandang sendok di tangannya, dan menyadari dua tetes minyak itu sudah tidak ada.

  “Nah, hanya itu nasihat yang bisa kuberikan untukmu,” kata orang paling bijak itu. “Rahasia kebahagiaan adalah menikmati segala hal menakjubkan di dunia ini, tanpa pernah melupakan tetes-tetes air di sendokmu.”

Dikutip dari buku The Alchemist karangan Paulo Coelho.

Sunday, August 3, 2014

Now Listening To



Not Too Late
by
Norah Jones

Tell me how you've been,
Tell what you've seen,
Tell me that you'd like to see me too.

'cause my heart is full of no blood,
My cup is full of no love,
Couldn't take another sip even if I wanted.

But it's not too late,
Not too late for love.

My lungs are out of air,
Yours are holding smoke,
And it's been like that now for so long.

I've seen people try to change,
And I know it isn't easy,
But nothin' worth the time ever really is.

And it's not too late,
It's not too late for love,
For love,
For love,
For love.

Sunday, July 27, 2014

Untitled

Aku berpikir, tidak ada siapapun yang mencintai aku sebesar Tuhanku mencintai aku. Karena cintaNya lah aku dapat merasakan cinta kalian semua di hidupku.

Monday, July 14, 2014

Why?

 I just had this thought, 

" Isn't useless if you really love someone, but that someone doesn't know it?" 

 What's the point of loving someone if she/he doesn't know that you really love her/him? Why don't you just show him/her your love? It would be tiring if she/he keeps wondering whether she is loved or not.

Thursday, July 10, 2014

Aku Pikir Ya

Aku pikir ya, bohong kalau perempuan bilang mereka berdandan untuk dirinya sendiri. Kalau untuk mendapatkan pujian baru aku setuju. Sedikit atau banyak, perempuan pasti berharap mendapatkan pujian ketika mereka telah repot-repot berdandan.

Aku pikir ya, kata-kata “dandan untuk diri sendiri” buat perempuan yang sangat-teramat-jarang-sekali dipuji oleh pasangannya. Jadi kenapa dia tidak dandan untuk dirinya sendiri dan mendapat pujian dari orang lain?

Pikirku lagi ya, penting buat pasangannya ngeh tentang hal kayak gini. Gimana kalo pasangannya enggak pernah memuji, padahal si perempuan udah repot-repot dandan cantik? Gimana kalo nanti yang memuji si perempuan malah lawan-jenis yang lain?  Gimana kalo sampe tahap akhirnya si perempuan males dandan buat pasangannya tapi giliran pergi sama orang lain dia malah dandan? Gimana hayo?

Pujian sederhana kayak “Rambut kamu lagi bagus” atau “kamu cantik” itu menyenangkan banget tau.


Wait! Ini sih pikiran aku sebagai perempuan tampang pas-pasan, gatau ya berlaku atau enggak buat perempuan yang cantiknya masya Allah. Kayaknya mereka udah tekbal dengan kata-kata “kamu cantik deh” jadi coba aja sama yang “rambut kamu bagus” : ))